Makalah Agama Hindu
Tentang
Tri Murti
Oleh :
|
Nama
Luh
Kadek Rika Devi
Ni Wayan
Wartini
Ni
Komang Nataliani
Sang Ayu
Sri Novi
|
Nomor
( 23 )
( 31 )
( 17 )
( 27 )
|
Kelas
X5
X5
X5
X5
|
SMA
N 1 SUSUT
TAHUN
PELAJARAN 2011 - 2012
Kata pengantar
Rasa sukur
yang dalam kami smpaikan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang
Maha Esa kehadirat Tuhan Yang Maha Pemurh, karena berkat kemurahannya dapat
saya selesaikan sesuai yang di harapkan. Dalam makalah ini saya membahas tentang
“Tri Murti” .
Makalah
ini di buat dalam rangka tugas pelajaran Agama Hindu yang diberikan oleh Ibu
guru dan memperdalam pemahaman tentang ajaran agama hindu pada umumnya dan
tentang Tri Murti pada khususnya dan mudah – mudahan apa yang disampaikan dapat
bermaafaat bagi sisiwa – siswi.
Dalam
proses pendalaman materi ini, tentunya saya mendapatkan saran, arahan dan
koreksi, untuk itu rasa trimakasi yang sedalam-dalamnya saya sampaikan pada
teman – teman kelompok dan Wali Guru yang mangajar di SMA N 1 Susut.
TERIMAKASI.
Bangli, 24 September 2012
Daftar
Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab 1 Pendahuluan
-
Latar Belakang
-
Rumusan Masalah
Bab 1 Pembahasan
1. Brahma
2. Wisnu
3. Siwa
Bab 2 Penutup
-
Kesimpulan
Daftar Pustaka
Bab
1 Pendahuluan
Latar Belakang
Agama hindu mempunya kepercayaan
mempunyai banyak dewa – dewi yang disembah dan dipuja dalam kehidupan sehari –
harin yang antara lain Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai Penjaga
dan Dewa Siwa sebagai pelebur, ketiga dewa tersebut lebih dikenal dengan
sebutan Tri Murti.
Tujuan
·
Sebagai bagian dari tugas mata
pelajaran agama hindu yang diberikan oleh Ibu / Bapak Guru
·
Menambah pengetahuan tentang Dewa –
Dewi yang dipercaya oleh Agama Hindu
·
Mempertebal keyakinan terhadap agama
sendiri supaya menjadi pengetahuan dan dapat diamalakan dengan baik.
BAB
2
PEMBAHASAN
Trimurti
Dalam agama Hindu, Trimurti (atau Tritunggal Hindu)
adalah tiga aspek Tuhan dalam wujudnya sebagai Brahma, Wisnu,
dan Siwa.
|
1.
Brahma
|
Brahma
|
|
|
Dewa pencipta, dewa pengetahuan
|
|
|
Dewanagari:
|
ब्रह्मा
|
|
Ejaan
Sanskerta:
|
Brahmā
|
|
Ejaan
Pali:
|
Brahmā
|
|
Golongan:
|
|
|
Kediaman:
|
|
|
Senjata:
|
Gada
|
|
Pasangan:
|
|
|
Wahana:
|
|
v
Dewa
pencipta
Menurut agama Hindu, Brahma
adalah salah satu di antara Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa). Dewa Brahma
juga bergelar sebagai Dewa pengetahuan dan kebijaksanaan. Beberapa orang
bijaksana memberinya gelar sebagai Dewa api. Dewa Brahma beristrikan Dewi
Saraswati, yang menurunkan segala ilmu pengetahuan ke dunia.
Menurut mitologi
Hindu, Dewa Brahma lahir dengan sendirinya (tanpa Ibu) dari dalam bunga teratai yang tumbuh di dalam Dewa Wisnu
pada saat penciptaan alam semesta. Legenda lain mengatakan bahwa Dewa Brahma
lahir dari air. Di sana Brahman menaburkan benih yang menjadi
telur emas. Dari telur emas tersebut, lahirlah Dewa Brahma Sang pencipta.
Material telur emas yang lainnya menjadi Brahmanda, atau telur alam semesta.
Menurut cerita
kuno, pada saat penciptaan alam semesta, Brahma menciptakan sepuluh Prajapati,
yang konon merupakan ayah-ayah (kakek moyang) manusia pertama. Menurut
Manusmrti, sepuluh Prajapati tersebut adalah: Marichi, Atri, Anggirasa,
Pulastya, Pulaha, Kratu, Wasistha, Praceta atau Daksa, Briegu, dan Narada. Ia
juga konon menciptakan tujuh pujangga besar yang disebut Sapta Rsi untuk
menolongnya menciptakan alam semesta.
Menurut kisah di
balik penulisan Ramayana, Dewa
Brahma memberkati Resi Walmiki untuk menulis kisah Ramayana, menceritakan riwayat Rama yang pada masa itu sedang
memerintah diAyodhya.
v
Penggambaran
Dewa Brahma
memiliki ciri-ciri sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Ada ciri-ciri umum
yang dimiliki Dewa Brahma, yakni:
§ bermuka
empat yang memandang ke empat penjuru mata angin (catur muka), yang mana pada
masing-masing wajah mengumandangkan salah satu dari empat Veda.
§ bertangan
empat, masing-masing membawa:
1.
Tongkat Teratai, kadangkala sendok (Brahma terkenal
sebagai Dewa yadnya atau upacara)
3.
Busur
4.
Genitri Akṣamālā
§ menunggangi
hamsa (angsa) atau duduk di atas teratai
v
Siklus
Dewa Brahma
Brahma hidup
selama seratus tahun Kalpa. Satu tahun Kalpa sama dengan 3.110.400.000.000 tahun.
Setelah seratus tahun Kalpa, maka Dewa Siwa sebagai Dewa
pelebur mengambil perannya untuk melebur alam semesta beserta isinya untuk
dikembalikan ke asalnya. Setelah itu, Brahma sebagai pencipta tutup usia, dan
alam semesta bisa diciptakan kembali oleh kehendak Tuhan.
2. Wisnu
|
|||
|
Dewa
pemelihara, pelindung alam semesta
|
|||
|
Dewanagari:
|
विष्णु
|
||
|
Ejaan Sanskerta:
|
viṣṇu
|
||
|
Nama lain:
|
Narayana
|
||
|
Golongan:
|
|||
|
Kediaman:
|
Lautan susu
|
||
|
Mantra:
|
Om Namo Nārāyanaya
|
||
|
Senjata:
|
|||
|
Pasangan:
|
|||
|
Wahana:
|
|||
|
Planet:
|
Waikunta
|
||
(yang mana sesuatu yang tidak terikat
dari belenggu itu adalah Wisnu).
Adi Shankara dalam pendapatnya tentang Wisnu Sahasranama,
mengambil kesimpulan dari akar kata tersebut, dan mengartikannya: "yang
hadir dimana pun" ("sebagaimana Ia menempati segalanya, vevesti, maka Ia disebut
Visnu"). Adi Shankara menyatakan: "kekuatan dari Yang Mahakuasa telah
memasuki seluruh alam semesta." Akar kata Viś berarti 'masuk ke dalam.'
Mengenai akhiran
–nu, Manfred Mayrhofer berpendapat bahwa bunyinya mirip
dengan kata jiṣṇu'
("kejayaan"). Mayrhofer juga berpendapat kata tersebut merujuk pada
sebuah kata Indo-Iranian *višnu,
dan kini telah digantikan dengan kata rašnu dalam kepercayaan Zoroaster di Iran.
Akar kata viś juga dihubungkan dengan viśva ("segala"). Pendapat
berbeda-beda mengenai penggalan suku kata "Wisnu" misalnya: vi-ṣṇu("mematahkan
punggung"), vi-ṣ-ṇu ("memandang ke segala
penjuru") dan viṣ-ṇu ("aktif"). Penggalan suku
kata dan arti yang berbeda-beda terjadi karena kata Wisnu dianggap tidak
memiliki suku kata yang konsisten.
v
Wisnu
dalam susastra Hindu
Susastra Hindu banyak menyebut-nyebut nama Wisnu
di antara dewa-dewi lainnya. Dalam kitab Weda, Dewa Wisnu
muncul sebanyak 93 kali. Ia sering muncul bersama dengan Indra, yang
membantunya membunuh Wretra, dan bersamanya ia meminum Soma. Hubungannya yang dekat dengan Indra
membuatnya disebut sebagai saudara. Dalam Weda, Wisnu muncul
tidak sebagai salah satu dari delapan Aditya, namun sebagai
pemimpin mereka. Karena mampu melangkah di tiga alam, maka Wisnu dikenal
sebagai Tri-wikrama atau Uru-krama untuk langkahnya yang lebar. Langkah
pertamanya di bumi, langkah keduanya di langit, dan langkah ketiganya di dunia
yang tidak bisa dilihat oleh manusia, yaitu disurga.
Dalam kitab Purana, Wisnu
sering muncul dan menjelma sebagai seorang Awatara, seperti
misalnya Rama dan Kresna, yang muncul
dalamItihasa (wiracarita Hindu). Dalam penitisannya
tersebut, Wisnu berperan sebagai manusia unggul.
Dalam kitab Bhagawadgita, Wisnu
menjabarkan ajaran agama dengan mengambil sosok sebagai Sri Kresna, kusir kereta Arjuna, menjelangperang di Kurukshetra berlangsung.
Pada saat itu pula Sri Kresna menampakkan wujud rohaninya sebagai Wisnu,
kemudian ia menampakkan wujud semestanya kepada Arjuna.
v
Dewa
Wisnu
Dalam Purana, dan
selayaknya penggambaran umum, Dewa Wisnu dilukiskan sebagai dewa yang berkulit
hitam-kebiruan atau biru gelap; berlengan empat, masing-masing memegang: gada, lotus, sangkala, dan chakra. Yang paling
identik dengan Wisnu adalah senjata cakra dan kulitnya yang berwarna biru
gelap. Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu
disebutkan memiliki wujud yang berbeda-beda atau memiliki aspek-aspek tertentu.
Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu memiliki enam sifat
ketuhanan:
§ Jñāna:
mengetahui segala sesuatu yang terjadi di alam semesta
§ Aishvarya:
maha kuasa, tak ada yang dapat mengaturnya
§ Shakti:
memiliki kekuatan untuk membuat yang tak mungkin menjadi mungkin
§ Bala:
maha kuat, mampu menopang segalanya tanpa merasa lelah
§ Virya:
kekuatan rohani sebagai roh suci dalam semua makhluk
§ Tèjas:
memberi cahaya spiritualnya kepada semua makhluk
Beberapa sarjana
Waisnawa meyakini bahwa masih banyak kekuatan Wisnu yang lain dan jumlahnya tak
terhitung, namun yang paling penting untuk diketahui hanyalah enam.
v Penggambaran
Dalam Purana, Wisnu
disebutkan bersifat gaib dan berada dimana-mana. Untuk memudahkan penghayatan
terhadapnya, maka simbol-simbol dan atribut tertentu dipilih sesuai dengan
karakternya, dan diwujudkan dalam bentuk lukisan, pahatan, dan arca. Dewa Wisnu
digambarkan sebagai berikut:
§ Seorang
pria yang berlengan empat. Berlengan empat melambangkan segala kekuasaanya dan
segala kekuatannya untuk mengisi seluruh alam semesta.
§ Kulitnya
berwarna biru gelap, atau seperti warna langit. Warna biru melambangkan
kekuatan yang tiada batas, seperti warna biru pada langit abadi atau lautan
abadi tanpa batas.
§ Pada
lehernya, terdapat permata Kaustubha dan kalung dari rangkaian bunga
§ Memakai
mahkota, melambangkan kuasa seorang pemimpin
§ Memakai
sepasang giwang, melambangkan dua hal yang selalu bertentangan dalam
penciptaan, seperti: kebijakan dan kebodohan, kesedihan dan kebahagiaan,
kenikmatan dan kesakitan.
Wisnu sering dilukiskan memegang empat benda yang selalu
melekat dengannya, yakni:
§ Terompet
kulit kerang atau Shankhya,
bernama "Panchajanya", dipegang oleh tangan kiri atas, simbol
kreativitas. Panchajanya melambangkan lima elemen penyusun alam semesta dalam
agama Hindu, yakni: air, tanah, api, udara, dan ether.
§ Cakram, senjata
berputar dengan gerigi tajam, bernama "Sudarshana", dipegang oleh
tangan kanan atas, melambangkan pikiran. Sudarshana berarti pandangan yang
baik.
§ Bunga lotus atau Padma, simbol
kebebasan. Padma melambangkan kekuatan yang memunculkan alam semesta.
v Tiga wujud
Dalam ajaran
filsafat Waisnawa (terutama di India), Wisnu
disebutkan memiliki tiga aspek atau perwujudan lain. Ketiga wujud tersebut
yaitu: Kāraṇodakaśāyi Vishnu atau Mahā
Vishnu;Garbhodakaśāyī Vishnu; dan Kṣirodakasāyī
Vishnu. Menurut Bhagawadgita, ketiga
aspek tersebut disebut "Puruṣa Avatāra", yaitu penjelmaan Wisnu yang
memengaruhi penciptaan dan peleburan alam material. Kāraṇodakaśāyi Vishnu (Mahā
Vishnu) dinyatakan sebagai Wisnu yang berbaring dalam "lautan
penyebab" dan Beliau menghembuskan banyak alam semesta (galaksi?) yang
jumlahnya tak dapat dihitung; Garbhodakaśāyī Vishnu dinyatakan sebagai Wisnu
yang masuk ke dalam setiap alam semesta dan menciptakan aneka rupa;
Kṣirodakasāyī Vishnu (Roh utama) dinyatakan sebagai Wisnu masuk ke dalam setiap
makhluk dan ke dalam setiap atom.
v Lima wujud
§ Para. Para merupakan wujud tertinggi dari Dewa Wisnu yang
hanya bisa ditemui di Sri Waikunta, juga disebut Moksha, bersama
dengan pasangannya — Dewi Lakshmi, Bhuma Dewi danNila Di
sana Ia dikelilingi oleh roh-roh suci dan jiwa yang bebas.
§ Vyuha. Dalam wujud Vyuha, Dewa Wisnu terbagi menjadi empat
wujud yang mengatur empat fungsi semesta yang berbeda, serta mengontrol segala
aktivitas makhluk hidup.
§ Vibhava. Dalam wujud Vibhava, Wisnu diasumsikan memiliki
penjelmaan yang berbeda-beda, atau lebih dikenal dengan sebutan Awatara, yang
mana bertugas untuk membasmi kejahatan dan menegakkan keadilan di muka bumi.
§ Antaryami. Antaryami atau “Sukma
Vasudeva” adalah wujud Dewa Wisnu yang berada pada setiap hati makhluk hidup.
§ Arcavatara. Arcavatara merupakan
manifestasi Wisnu dalam imajinasi, yang digunakan oleh seseorang agar lebih
mudah memujanya sebab pikirannya tidak mampu mencapai wujud Para, Vyuha,
Vibhava, dan Antaryami dari Wisnu.
v
Awatara
Dalam Purana, Dewa Wisnu
menjelma sebagai Awatara yang turun ke dunia untuk
menyelamatkan dunia dari kejahatan dan kehancuran. Wujud dari penjelmaan Wisnu
tersebut beragam, hewan atau manusia. Awatara yang umum dikenal oleh umat Hindu
berjumlah sepuluh yang disebut Dasa
Awatara atau Maha Avatār.
Sepuluh Awatara Wisnu:
§ Kurma (Sang kura-kura)
§ Varaha (Sang Babi hutan)
Di antara
sepuluh awatara tersebut, sembilan di antaranya diyakini sudah menjelma dan
pernah turun ke dunia oleh umat Hindu, sedangkan awatara terakhir (Kalki) masih menunggu
hari lahirnya dan diyakini menjelma pada penghujung zaman Kali Yuga.
v
Hubungan
dengan Dewa lain
Dewa Wisnu
memiliki hubungan dengan Dewi Lakshmi, Dewi
kemakmuran yang merupakan istrinya. Selain dengan Indra, Wisnu juga
memiliki hubungan dekat dengan Brahmā dan Siwa sebagai konsep Trimurti. Kendaraan Dewa
Wisnu adalah Garuda, Dewa burung.
Dalam penggambaran umum, Dewa Wisnu sering dilukiskan duduk di atas bahu burung
Garuda tersebut.
v
Tradisi
dan pemujaan
Dalam tradisi Dvaita Waisnawa, Wisnu
merupakan Makhluk yang Maha Kuasa. Dalam filsafat Advaita Vedanta, Wisnu
dipandang sebagai salah satu dari manifestasi Brahman. Dalam segala
tradisi Sanatana Dharma, Wisnu
dipuja secara langsung maupun tidak langsung, yaitu memuja awatara-nya.
Aliran Waisnawa memuja Wisnu secara khusus. Dalam sekte Waisnawa di India, Wisnu dipuja
sebagai roh yang utama dan dibedakan dengan Dewa-Dewi lainnya, yang disejajarkan
sepertimalaikat. Waisnawa
menganut monotheisme terhadap Wisnu, atau Wisnu
merupakan sesuatu yang tertinggi, tidak setara dengan Dewa.
Dalam tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu
memanifestasikan dirinya menjadi Awatara, dan di India, masing-masing awatara
tersebut dipuja secara khusus.
Tidak diketahui
kapan sebenarnya pemujaan terhadap Wisnu dimulai. Dalam Veda dan informasi tentang agama Hindu
lainnya, Wisnu diasosiasikan dengan Indra. Shukavak N. Dasa, seorangsarjana Waisnawa, berkomentar bahwa
pemujaan dan lagu pujia-pujian dalam Veda ditujukan bukan untuk Dewa-Dewi
tertentu, melainkan untuk Sri Wisnu — Yang Maha Kuasa — yang merupakan jiwa
tertinggi dari para Dewa.[2]
Di Bali, Dewa Wisnu
dipuja di sebuah pura khusus untuk beliau, bernama Pura Puseh, yakni pura yang harus ada di
setiap desa dan kecamatan. Di sana ia
dipuja sebagai salah satu manifestasiSang Hyang Widhi yang memberi kesuburan dan
memelihara alam semesta.
Menurut konsep Nawa Dewata dalam Agama Hindu Dharma di Bali, Dewa Wisnu
menempati arah utara dalam mata angin.
Warnanya hitam, aksara sucinya
“U” (ung).
v
Versi
pewayangan Jawa
Dalam pementasan wayang Jawa, Wisnu sering
disebut dengan gelar Sanghyang Batara Wisnu. Menurut versi
ini, Wisnu adalah putra kelimaBatara Guru dan Batari Uma. Ia merupakan putra yang paling
sakti di antara semua putra Batara Guru.
Menurut mitologi
Jawa, Wisnu pertama kali turun ke dunia menjelma menjadi raja bergelar
Srimaharaja Suman. Negaranya bernama Medangpura, terletak di wilayah Jawa Tengah sekarang. Ia kemudian berganti
nama menjadi Sri Maharaja Matsyapati, merajai semua jenis binatang air.
Selain itu Wisnu juga menitis atau
terlahir sebagai manusia. Titisan Wisnu menurut pewayangan antara lain,
1.
Srimaharaja Kanwa.
2.
Resi Wisnungkara
Siwa (Dewanagari: शिव; IAST: Śiva) adalah salah satu dari tiga dewa
utama (Trimurti) dalam agama Hindu.
Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa
pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak
berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.
v Karakteristik
Umat Hindu, khususnya umat Hindu di India, meyakini bahwa Dewa Siwa memiliki ciri-ciri
yang sesuai dengan karakternya, yakni:
§ Bertangan empat, masing-masing membawa:
trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi
§ Bermata tiga (tri netra)
§ Pada hiasan kepalanya terdapat ardha
chandra (bulan sabit)
§ Ikat pinggang dari kulit harimau
3. Siwa
|
Siwa (Dewanagari: शिव; IAST: Śiva) adalah salah satu dari tiga dewa
utama (Trimurti) dalam agama Hindu.
Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa
pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak
berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.
v Karakteristik
Umat Hindu, khususnya umat Hindu di India, meyakini bahwa Dewa Siwa memiliki ciri-ciri
yang sesuai dengan karakternya, yakni:
§ Bertangan empat, masing-masing membawa:
trisula, cemara, tasbih/genitri, kendi
§ Bermata tiga (tri netra)
§ Pada hiasan kepalanya terdapat ardha
chandra (bulan sabit)
§ Ikat pinggang dari kulit harimau
|
|
Siwa
|
|
|
Dewa pelebur, dewa pemusnah
|
|
|
Dewanagari:
|
शिव
|
|
Ejaan
Sanskerta:
|
Śiva
|
|
Nama
lain:
|
Jagatpati,
Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra
|
|
Golongan:
|
|
|
Kediaman:
|
|
|
Senjata:
|
|
|
Pasangan:
|
|
|
Wahana:
|
|
Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa
dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia ke unsurnya,
menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata), Dewa Siwa
menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Ia dipuja di Pura Besakih.
v
Putra
Menurut
cerita-cerita keagamaan yang terdapat dalam kitab-kitab suci umat Hindu, Dewa Siwa
memiliki putra-putra yang lahir dengan sengaja ataupun tidak disengaja.
Beberapa putra Dewa Siwa tersebut yakni:
BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) (sebutan Tuhan dalam agama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya.
Adapun bagian –
bagian dari Tri Murti adalah :
v
Dewa
Brahma adalah Dewa pencipta. Dalam filsafat Adwaita, ia
dipandang sebagai salah satu manifestasi dari Brahman (sebutan Tuhan dalam konsep Hinduisme) yang
bergelar sebagai Dewa pencipta.
v
Dewa
Wisnu adalah Dewa yang bergelar sebagai shtiti (pemelihara) yang bertugas
memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa
v
Dewa Siwa adalah dewa pelebur,
bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di
dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.
Daftar pustaka



Tidak ada komentar:
Posting Komentar